Showing posts with label dari. Show all posts
Showing posts with label dari. Show all posts

Tuesday, December 17, 2013

Kisah Sedih Dari Sejarah Kelam Lorong Bawah Tanah Cu Chi Vietnam

Terowongan bawah tanah di desa Cu Chi kini lebih dikenal sebgai tempat wisata sejarah yang menarik dan menantang. Namun, lorong bawah tanah yang menjadi basis perjuangan milisi Vietcong dalam perang melawan Amerika Serikat (1959-1975) menyimpan sejumlah cerita kelam.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/68/VietnamCuChiTunnels.jpg/300px-VietnamCuChiTunnels.jpg

"Banyak turis yang lebih mengagumi kisah heroik para pejuang Vietcong bersama dengan pasukan Vietnam dalam berperang melawan Prancis dan Amerika yang membantu Vietnam Selatan. Namun, ada sejumlah kenangan pahit dan penderitaan yang dirasakan sekitar 10 ribu pejuang dan warga yang harus berpuluh tahun tinggal di lorong sempit dan gelap," kata Nhi Nguyen, seorang pemandu wisata di Kota Ho Chi Minh.

http://www.hochiminhtrailproject.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/album_l92.jpg

Satu kisah yang menyayat adalah pengorbanan seorang ibu bermarga Le yang terpaksa membunuh seorang anaknya yang baru lahir demi menyelamatkan nasib banyak orang di lorong bawah tanah. Nhi tidak tahu persis kapan kisah ini terjadi, tetapi peristiwa itu berlangsung saat Vietnam berperang melawan Amerika.

http://www.vanitytours.com/v/images/articles/CuChi%20tunnel.jpg

"Zaman perang, pemerintah meminta perempuan tidak berhubungan intim dengan pasangannya selama tinggal di terowongan. Namun, seorang perempuan simpatisan Vietcong waktu itu ternyata sudah mengandung," kata Nhi saat mengantar para turis asal Indonesia dari Kota Ho Chi Minh (populer disebut Saigon) menuju terowongan di desa Cu Chi, yang memakan waktu tempuh lebih dari dua jam.

"Ibu itu terpaksa melahirkan di ruang bawah tanah. Namun, selayaknya bayi yang baru lahir, anak malang itu menangis kencang. Ini sangat berbahaya," kata Nhi.

"Padahal tangis bayi itu bisa terdengar di atas permukaan tanah. Ini berisiko membuat pasukan Amerika mengetahui dan menyerang terowongan," lanjut guide yang cukup lancar berbahasa Indonesia itu.

Maka tidak ada cara lain bagi Ibu tersebut untuk menghentikan tangis anaknya selain membunuhnya. "Hidung bayi itu terus dia bekap sampai putranya tak bergerak lagi," ujar Nhi.

Bagi para komandan dan pejuang Vietcong, langkah ibu Le merupakan tindakan heroik karena bisa menyelamatkan banyak jiwa dari serangan bom artileri dan pesawat tempur Amerika ke terowongan Cu Chi. Namun, perempuan itu menjadi sangat terpukul dan akibatnya fatal.

"Dia merasa sangat kehilangan atas kepergian putranya yang terpaksa dibunuh. Maka, setelah Vietnam bersatu dan merdeka pada 1975, ibu itu jiwanya terganggu lalu bunuh diri," kata Nhi yang terbawa oleh kisah itu hingga sempat berurai air mata.

Bosnya, Hung Tran, mengungkapkan bahwa kisah itu kini selalu diutarakan para pemandu wisata setiap kali mereka mengantar para turis ke terowongan Cu Chi.

http://www.wright-photo.com/VietnamImages/Cu_Chi_041.jpg

"Masih banyak lagi kisah yang menggambarkan pengorbanan para warga bawah tanah. Banyak di antara mereka yang mati akibat sanitasi buruk dan wabah penyakit. Belum lagi, terkena gigitan binatang dan serangga beracun yang hidup di bawah tanah," kata Hung.

Selain itu, para warga juga terpaksa menggali terowongan baru yang lebih dalam untuk mencari sumber mata air. "Tindakan itu terpaksa mereka lakukan setelah Amerika merusak sungai Saigon dengan bom Napalm yang mencemari air," kata Hung.

Sumber :
vivanews.com

Saturday, December 7, 2013

Ingin Bertemu Bayinya Kabur dari Penjara

Nekat, ingin bertemu bayinya kabur dari penjara. Kepala Lembaga Permasyarakatan Wanita (LPW) Sukun, kota Malang, Enny Purwaningsih ketika dikonfirmasi enggan menjelaskan perihal kaburnya Ita ini. Saat dihubungi, Enny mengalihkan telpon ke salah satu stafnya, Lilik S. Lilik sendiri mengakui bahwa LP hanya mengijinkan keluarga Ita untuk membesuk dengan syarat tertentu. Secara prosedural, kata Lili, memang ada tahapan perizinan yang harus ditempuh. "Ita ini belum dilimpahkan ke kami, dia masih titipan pihak kejaksaan Batu. Jadi, kalau mau jenguk harus minta izin dulu ke Batu." Ujar Lilik.

Terlepas dari itu, Lilik mengakui kaburnya Ita karena kelengahan pihak LP. Ia kabur dengan cara memanjat dinding menggunakan tangga yang diambilnya dari gudang. Kejadian kaburnya Ita ini mengundang simpati sekaligus keprihatinan dari aktifis LSM kewanitaan Sri Wahyuningsih, SH. Saat mendengar kabar dari Surya kemarin, Direktur LSM Woman Crisis Center Dian Mutiara ini mengaku terenyuh dan berencana mengunjungi Ita di LPW Sukun.

Wahyu, begitu biasa ia dikenal, mengecam keruwetan birokrasi yang menurutnya memenjarakan rasa kangen Ita pada sang anak. "Rasa kangen ibu pada sang anak itu sangat naluriah. Sudah saatnya peraturan di LP memberikan kelongggaran untuk mewujudkan hal itu. Kalau perlu tahanan seharusnya diantar untuk bertemu anaknya di rumah," ujar Wahyuningsih.

Ia mengatakan, apa yang terjadi pada Ita bisa jadi adalah sebuah bentuk kekerasan perempuan yang dilakukan oleh birokrasi. "Sangat Ironis, apa lagi terjadi saat kita baru saja memperingati 25 November sebagai hari penghapusan kekerasan terhadap perempuan sedunia," ucap dosen senior Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini.

beritahu teman anda artikel-artikel bagus dari gen22.blogspot.com